Kisah apes seorang pemuda dengan sepeda motor

Kisah apes seorang pemuda dengan sepeda motor

Pada pukul 07:26

Mata Zuck yang tadinya menyipit-nyipit mencegah kantuk, segera terbelalak begitu melihat angka itu di jam tangan digital-nya. Bergegas ia menghalau selimut dan duduk berasal dari tidurnya. Ia kesiangan! Ini gara-gara tadi malam nonton bareng liga Champions Afrika hingga jam dua pagi. Sudah begitu gara-gara malas pulang, ia terpaksa menginap di tempat tinggal Jabon.

Padahal tadi malam sebelum saat tidur, Jabon udah setuju pas Zuck meminta dibangunkan jam enam. Tapi bahkan hingga lebih jam tujuh pas ini, sahabatnya itu masih terlelap sambil mengeloni guling.

“Bon! Bangun,” Zuck mengguncang badan Jabon berulang-ulang. Prediksi Togel

Perlahan badan Jabon bergerak. Posisi tidurnya beralih telentang, lantas mengulet namun dengan mata masih terpejam.

“Bangun, Bon. Mana nih janjinya senang bangunin aku? Ayo cepet bangunin!” tagih Zuck ulang mengguncang-guncang tubuh Jabon lebih bertenaga.

“Apaan sih? Gangguin orang aja,” protes Jabon setengah sadar, memancal selimut dan menariknya hingga menutup sekujur tubuh, lalu tak bergerak ulang persis jenazah.

“Bon….” Zuck melongo tak percaya. “Gara-gara anda nggak bangunin saya jadi kesiangan bangun pagi.”

“Justru gara-gara anda hari ini saya jadi bangun siang kepagian!” balas Jabon mengeluarkan protes berasal dari didalam selimut.

“Huh! Dasar nggak dapat diandelin. Tau gini mending tadi malam nge-set alarm aja!” omel Zuck melempar Jabon dengan sarung bantal beserta isinya, lantas tergopoh-tergopoh meninggalkan kamar.

Pagi yang udah benderang menyongsong Zuck begitu ia terhubung pintu. Suasana udah cukup sibuk. Dari tetangga kanan kiri terdengar suara-suara mesin kendaraan tengah dipanasi. Di jalur termasuk udah banyak orang berlalu lalang dengan urusan masing-masing.

Tergesa Zuck mengeluarkan RX-King-nya berasal dari garasi tempat tinggal Jabon. Tergesa termasuk ia mengengkol-engkol motor itu dan baru hidup terhadap engkolan kedelapan belas. Lalu tanpa sempat dipanasi, segera dipacunya pulang dengan kecepatan tinggi. Ia perlu menang melawan waktu. Setelat-telatnya setengah jam berasal dari sekarang, ia perlu udah berada di kampus. Ada kuliah algoritma dan pemograman yang dibawakan Pak Kamal, dosen yang tak dulu mengampuni mahasiswa yang kalau masuk kelas lebih terlambat darinya!

Dalam perjalanan, di tengah konsentrasinya menyetir, Zuck terasa mendadak ban belakang motornya berat dan sedikit oleng. Dengan perasaan kuatir Zuck menginjak rem dan melepas tarikan gas.

Dan benar saja, pas ia turun untuk memeriksa, ia mendapatkan sebuah paku tertancap di ban! Prediksi HK

Bugh! Spontan Zuck menendang ban motornya saking kesalnya. Motornya diam saja tak melawan, justru ujung sepatu Zuck yang berhasil jebol menganga.

“Sial!” Emosi Zuck jadi tambah parah. Kali ini jok motor yang jadi sasaran. Ditamparnya keras hingga meninggalkan bekas tangan.

“Huft!”

Sesaat Zuck menghela napas panjang. Tiba-tiba ia terasa kasihan. Ini bukan salah motornya. Ini formal salah Jabon! “Kenapa dia ingkar serupa janjinya bangunin aku? Kenapa dia nggak melarangku nginep di rumahnya?! Kenapa?!” omel Zuck mendongak ke langit.

Setelah mengusap-usap bekas tamparan di jok dengan perasaan haru, Zuck menuntun motor malang itu berjalan di sisinya. Ia meminta ada tukang tambal ban yang udah membuka praktek sepagi itu. Beruntung tidak terlampau jauh berasal dari TKP, ia mendapatkan apa yang diharapkannya tersebut.

“Enggak, enggak! Jelas-jelas ban udah bocor begini jaman masih terasa beruntung?! Apaan?! Ini selamanya sial. Apes!” Zuck tetap mengoceh menyalahkan keadaan. Malah sempat muncul pikiran buruk, bahwa tukang tambal ban itu yang sengaja tebar paku di jalanan.

Dan menunggu ban motornya ditambal, Zuck pergi ke sebuah toko di sebelah bengkel. Kondisi keuangannya yang terlampau payah, membuatnya cuma dapat membeli sebiji air minum kemasan gelas. Plastik penutupnya Zuck sobek lebar-lebar, lalu manfaatkan sebagian besar isinya untuk cuci muka, pas sisanya Zuck minum hingga tetes terakhir. Setelah itu ia duduk di trotoar depan toko. Wadah air minum yang udah kosong ditaruh begitu saja di depan kakinya.

Tapi kurangnya tidur, kekuatiran diburu waktu, serta perasaan kecewa akibat kekalahan tim jagoannya tadi malam, membawa dampak tampang Zuck selamanya berantakan dan tak enak dipandang meski udah dicuci dengan air mineral. Lusuh!

Tampang lusuh itu masih ditambah dengan langkah berpakaiannya yang terlampau tidak modis. Berupa jaket hitam kekuning-kuningan gara-gara kusam, serta bawahan celana jeans lecek yang terhadap bagian dengkulnya sengaja disobek-sobek. Sepatunya termasuk udah usang dan nampak koyak hasil berasal dari menyepak ban motor tadi. Dengan tampang dan penampilan layaknya itu, sebetulnya Zuck lebih muncul layaknya gelandangan kepagian daripada seorang manusia biasa. Serius. Ngakunya saja mahasiswa!

Tak lama berselang, Zuck melihat sebuah motor matic berhenti di depan toko. Pengendaranya yang seorang cewek berbusana SMU itu turun mendatangi toko.

“Bang, ada pulsa?”

“Tapi yang elektrik habis. Tinggal yang vouceran.”

“Nggak masalah, Bang. Pulsa kiloan termasuk nggak apa-apa, yang penting pulsa saya keisi. Butuh cepet nih,” kata remaja paruh baya itu tersenyum begitu manis.

“Ck! Udah cantik, ada cacatnya pula,” Zuck hingga berdecak kagum dan bergumam tanpa jelas melihat senyum itu. Selain manis, ditambah termasuk dengan lesung pipi yang imut dan menggemaskan.

Si cantik mengeluarkan dompet mewah berasal dari didalam tas sekolah. Dibuka perlahan dan matanya nampak mencari-cari suatu hal di dalamnya. Tapi ia menggeleng. Zuck menduga mungkin isinya poundsterling semua, agar tidak laku digunakan di toko kecil layaknya itu. Dompet itu ulang ditutup dan ditaruh begitu saja di antara tumpukan snack. Cewek itu merogoh tas sekali ulang menyita dompet cadangan. Dari dompet ke dua itulah, ia berhasil menyita selembar uang dan diserahkan ke pemilik toko.

Setelah pulsanya terisi, ia nampak menghubungi seseorang, berbicara, tertawa-tawa, dan Zuck tidak senang memperhatikannya lagi. Bodo amat! Nasibnya sendiri masih belum jelas. Waktu kuliah tinggal tidak hingga setengah jam, pas ia masih bengong di tepi jalur menunggu ban bocornya ditambal.

“Arghhh…” Zuck tertunduk lesu mengacak-acak kepalanya menumpahkan kekesalan. Rambutnya tambah semrawut. Ada yang mencuat ke langit, ada yang ambruk menutupi wajah, ada termasuk yang rontok dengan ketombe ke permukaan tanah.

KLIK! SEKOPPOKER

Zuck sedikit kaget. Menengok ke sumber suara. Mendadak ia terasa hina. Ia tersinggung. Ingin marah. Gelas kosong bekas air minumnya tadi, baru saja dijatuhi dua buah koin limaratusan oleh seseorang! Zuck mendongak, dambakan jelas siapa yang barusan udah dengan kejam menganggapnya sebagai pengemis! Terlihat, cewek yang tadi membeli pulsa pergi berasal dari arah dirinya. Pasti dia!

Tapi belum sempat Zuck berbuat suatu hal untuk mengembalikan nama baiknya, cewek itu udah melesat pergi dengan motor matic-nya.

Tanpa sengaja mata Zuck melihat dompet cewek tadi masih tertinggal di antara tumpukan snack. Zuck deg-degan. Setelah celingak-celinguk meyakinkan tak ada orang melihat, Zuck memungut uang santunan di didalam gelas, lantas dibawanya ulang ke toko.

“Bang, membeli ketumbar seribu,” kata Zuck modus mengalihkan perhatian sang pemilik toko.

Si Abang menuju rak rempah-rempah. Di pas itulah, dengan gesit Zuck menyambar dompet cewek tadi yang tertinggal. Lima detik lantas barang berikut udah safe di balik bajunya.

“Nih, Bang,” Zuck membayar pembelian ketumbar.

Entah gara-gara sangsi uang receh berasal dari Zuck uang palsu atau apa, si pemilik toko nampak mengamati uang itu cukup lama.

“Ini kok serupa uang kembalian saya untuk anak SMA tadi?”

Zuck pura-pura tak mendengar dan buru-buru pergi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *